Saturday, 21 May 2011

Materi, Strategi dan Media Pembelajaran Tajwid di Madrasah Ibtidaiyah

Materi, Strategi dan Media Pembelajaran Tajwid di Madrasah Ibtidaiyah

Bab I
Isi


Mengajarkan Al-Qur’an Hadits tentu tidak akan terlepas dari mengajarkan ilmu tajwid. Setiap materi pelajaran mempunyai karakter tersendiri yang berbeda dengan materi pelajaran yang lain. Demikian juga dengan ilmu Tajwid.
Dengan mengajarkan ilmu tajwid, siswa diharapkan bisa memahami dan mengaplikasikan ilmu tajwid tersebut dalam membaca Al-Qur’an sehari hari. Siswa bisa mempraktekkan membaca Al-Qur’an dengan fasih dan benar.
Untuk mencapai tujuan tersebut, diperlukan metode dan strategi yang sesuai dalam mengajarkan ilmu tajwid.
Dalam makalah ini, penulis berusaha menyajikan materi, metode dan strategi yang penulis anggap sesuai untuk mengajarkan ilmu tajwid kepada siswa MI.
Bab II
Isi
A. Materi Tajwid Madrasah Ibtidaiyah
1. Waqaf dan Wasal
a. Waqaf
Waqaf artinya berhenti. Tanda Waqaf adalah tanda untuk menghentikan bacaan Al-Qur’an.
1) Macam-macam cara membaca waqaf:
a) Apabila di akhir ayat hurufnya berharakat fatḥah (َ), kasrah (ِ), dummah (ُ), kasrah tanwin (ٍ), atau dummah tanwin (ٌ), maka huruf terakhir dibaca sukun/mati.
b) Apabila di akhir ayat hurufnya berharakat fathah tanwin(ً) (selain huruf ta’ marbuṭah), maka tanwinnya tidak dibaca tetapi diganti fatḥah panjang (mad)
c) Apabila di akhir ayat hurufnya berupa ta’ marbuṭah (ة), maka ta’ tersebut berubah menjadi ha (ه) sukun/mati.
d) Apabila akhir ayat berupa huruf alif atau ya dan sebelumnya berharakat fatḥah, maka huruf tersebut dibaca panjang.
2) Macam-macam tanda waqaf
a) Waqaf lazim/ م artinya harus berhenti.
b) Waqaf jaiz/ ج artinya boleh berhenti dan boleh terus.
c) Waqaf aula/ قلى artinya berhenti lebih utama
d) Saktah/سكته artinya berhenti sejenak dan menahan nafas.
e) Waqaf ta’anuq/mu’anaqah/ (... ... ) artinya berhenti pada salah satu tanda (yang pertama atau kedua) dan terus
b. Waṣal
Waṣal artinya terus atau menyambung bacaan. Tanda waṣal adalah tanda untuk meneruskan bacaan al-Qur’an.
Macam-macam tanda wasal
1) Waqaf mamnu’/ لا artinya tidak boleh berhenti/harus terus.
2) Waṣal aula/ صلى artinya terus lebih utama.[1]
2. Bacaan ghunnah
Gunnah artinya dengung. Menurut istilah, gunnah adalah bacaan apabila ada nun atau mim yang berharakat tasydid. Cara membaca gunnah adalah dengan berdengung. Huruf gunnah ada 2 yaitu:
a. Mim Tasydid contoh : عَمَّ يَتَسَآ لُوْنَ
b. Nun Tasydid contoh: لَتَرَوُنَّ الْجَحِيْمَ
3. Al-Qamariyah dan Al-Syamsiyah
a. Al-Qamariyah
Al-qamariyah atau alif lam qamariyah adalah al/alif lam (ال) yang bertemu langsung dengan salah satu huruf qamariyah. Huruf qamariyah ada 14 yaitu : ا-ب-ج-ح-خ-ع-غ-ف-ق-ك -م-و-ه-ي
Al qamariyah sering juga disebut iẓhar qamariyah. Qamariyah berarti bulan, yang terlihat jelas dalam bayangan air. Cara membaca al qamariyah suara lam sukun (“L”) jelas.
contoh bacaan al qamariyah:
1) خَلَقْنَااْلاِنْسَانَ
2) وَالْعَصْرِ
b. Al-Syamsiyah
Al-syamsiyah atau alif lam syamsiyah adalah al/alif lam (ال) yang bertemu langsung dengan salah satu huruf syamsiyah. Huruf syamsiyah ada 14 yaitu : ت-ث-د-ذ-ر-ز-س-ش-ص-ض -ط-ظ-ل-ن
Al syamsiyah sering juga disebut idgam syamsiyah. Syamsiyah berarti matahari. Cara membaca al syamsiyah suara lam sukun hilang dan masuk ke dalam huruf selanjutnya/ huruf syamsiyah dibaca tasydid (rangkap). contoh bacaan al syamsiyah:
1) وَالشَّمْسِ
2) وَالتِّيْنِ[2]
4. Mad
Mad artinya memanjangkan. Menurut istilah ilmu tajwid artinya memanjangkan bacaan huruf tertentu karena sebab-sebab tertentu. Mad di bagi menjadi 2 yaitu:
a. Mad Thabi’i/mad asli
Mad Thabi’i artinya memanjangkan bacaan disebabkan bertemu salah satu huruf mad. Mad thabi’i dibaca panjang 2 ḥarakat atau 1 alif. Huruf mad ada 3 yaitu:
1) Alif sukun (ا) yang didahului dengan fatḥah contoh : قاَلَ، اِنْساَنَ
2) Wau sukun (وْ) yang didahului dummah, contoh : يَقُوْلُ، غَفُوْرٌ
3) Ya sukun (يْ) yang didahului dengan kasrah, contoh : قِيْلَ، عَزِيْزٌ
b. Mad far’i
Mad Far’i atau mad cabang adalah semua bacaan mad selain mad thabi’i. Mad far’i antara lain:
1) Mad Wajib Muttaṣil
Muttaṣil artinya bersambung. Mad wajib muttaṣil adalah mad asli yang bertemu dengan huruf hamzah dalam satu kalimah (kata). Panjang bacaan mad wajib muttaṣil adalah 4 sampai 6 harakat atau 2 sampai 3 alif. contoh : جَآءَ، سَوَآءٌ
2) Mad Jaiz Munfaṣil
Munfaṣil artinya terpisah. Mad jaiz munfaṣil adalah mad asli yang bertemu dengan huruf hamzah bukan dalam satu kalimah (kata). Contoh : وَمَآ اُنْزِلَ، فِيْهَآ اَبَداً
Panjang bacaan mad jaiz munfaṣil ada 3 macam yaitu:
a) 1 alif atau 2 ḥarakat, ketika membaca cepat
b) 2 alif atau 4 ḥarakat, ketika membaca sedang
c) 21/2 alif atau 5 ḥarakat, ketika membaca lambat. [3]
3) Mad ‘Arid lisukun adalah bacaan panjang karena ada huruf mad bertemu dengan huruf mati yang disebabkan karena waqaf dan terjadi di akhir ayat. Contoh اَلرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
4) Mad ‘Iwad adalah fatḥah tanwin yang berada di akhir kalimah dan dibaca waqaf. Cara membacanya panjang 1 alif.
Contoh : عَلِيْماً حَكِيْماً ◌
5) Mad Badal adalah setiap hamzah yang dibaca panjang/hamzah bertemu dengan huruf mad. Contoh : ادَمَ، اِيْماَناً، اُوْتُوا
6) Mad lazim Musaqqal kilmy adalah bacaan panjang karena bertemunya huruf mad dengan tasydid dalam 1 kalimah (kata). Cara membacanya panjang 4 atau 6 ḥarakat. Contoh : وَلاَالضَّآلِّيْنَ ◌
7) Mad Lazim Mukhaffaf kilmy adalah bacaan panjang karena huruf mad bertemu dengan huruf mati dalam satu kalimah (kata). Cara membacanya dengan memanjangkan mad 4 ḥarakat kemudian membaca huruf mat setelahnya dengan ringan. Contoh : آلْانَ
8) Mad Lazim Musaqqal Harfi adalah bacaan panjang pada permulaan surah, biasanya ditandai dengan tanda alis (~) dibaca dengan berat sepanjang 3 alif. contoh :الــم
9) Mad Lazim Mukhaffaf Harfi adalah bacaan panjang pada permulaan surah. tandanya fathah berdiri, dibaca dengan ringan sepanjang 1 alif. contoh :طـه
10) Mad Lin adalah mad yang terjadi pada huruf wau (و) atau ya’ (ي) sukun yang jatuh setelah harakat fathah dan dibaca waqaf. Cara membacanya boleh 1, 2, atau 3 alif. Contoh : خَيْرٌ◌، شَيْئٌ◌
11) Mad Silah
a) Mad Silah thawilah yaitu apabila ada ha’ dhomir () bertemu dengan dengan hamzah qata’/ hamzah yang berharakat. Panjang bacaannya adalah 4 harakat. Contoh :اِنَّهأَضْحَكَ
b) Mad Silah Qasirah yaitu apabila ada ha’ dhomir ()terletak setelah huruf hidup. Cara membacanya panjang 2 harakat. Contoh : كُلُّه
12) Mad Farqu adalah apabila ada hamzah bertemu dengan al ta’rif. Panjangnya 3 alif. Contoh : ءآللهُ، قُلْءَآلذَّكَرَيْنِ
13) Mad Tamkin adalah bacaan panjang yang terjadi karena ada 2 ya’. Ya’ yang pertama berharakat kasrah dan tasydid dan ya’ yang kedua berharakat sukun. Panjang bacaannya 1 alif.
Contoh: حَيِّيْتُمْ، اَلنّبِيِّيْنَ [4]
5. Hukum Nun Sukun / Tanwin dan Mim Sukun
a. Iẓhar
Iẓhar artinya jelas (terang). Cara membaca bacaan iẓhar, nun sukun atau tanwin harus dibaca jelas tanpa dengung.
Hukum bacaan Iẓhar ada 3 yaitu
1) Iẓhar ḥalqi atau sering disebut iẓhar saja yaitu bila ada nun sukun () atau tanwin bertemu dengan huruf ḥalqi (huruf yang keluar dari tenggorokan) Huruf Ḥalqi ada 6 yaitu: ا-ح-خ-ع-غ-ه
Contoh : اَنْعَمْتَ، وَيَنْئَوْنَ، غَفُوْرٌ حَلِيْمِ
2) Iẓhar wajib yaitu apabila ada nun sukun atau tanwin bertemu dengan huruf ya’ atau wau dalam 1 kata. contoh : فِيْ الدُّنْياَ حَسَنَةً
3) Iẓhar syafawi yaitu apabila ada mim sukun bertemu dengan huruf hijaiyah selain mim dan ba’.
Iẓhar artinya jelas. Syawfawi artinya bibir. maksudnya suara mim sukun harus jelas di bibir (tidak ditekan). Huruf Iẓhar syafawi ada 26 yaitu semua huruf hijaiyah kecuali mim dan ba.
Contoh : فَلَهُمْ اَجْرٌ، لَمْ يَلِدْ[5]
b. Ikhfa’
Ikhfa’ artinya samar-samar. Hukum Ikhfa’ ada 2 yaitu:
1) Ikhfa’ ḥaqiqi
Ikhfa’ ḥaqiqi sering hanya disebut ikhfa’, yaitu apabila ada nun sukun atau tanwin bertemu dengan huruf ikhfa’. Cara membaca Ikhfa’adalah samar-samar dan berdengung. Huruf Ikhfa’ ada 15 yaitu : ت-ث-ج-د-ذ-ز-س-ش-ص-ض-ط-ظ-ف-ق-ك
Contoh: عَمَلاً صلِحاً، مِنْ شَرِّ ماَ [6]
2) Ikhfa’ Syafawi
Ikhfa’ syafawi adalah apabila ada mim sukun bertemu dengan huruf ba’. Contoh : مُبْتَلِيْكُمْ بِنَهَرٍ
c. Idgam
Idgam artinya melebur/masuk. Hukum idgam ada 2 yaitu:
1) Idgam bighunnah
Idgam artinya memasukkan, gunnah artinya dengung. Menurut istilah, idgam bigunnah adalah apabila ada nun sukun/tanwin bertemu dengan salah satu huruf ya’ (ي), nun (ن), mim (م), atau wau (و). Cara membaca idgam bigunnah adalah dengan memasukkan suara nun sukun/ tanwin ke dalam huruf berikutnya dengan dengung. contoh: كَعَصْفٍ مَأْكُوْلٍ، فَمَنْ يَعْمَلْ
2) Idgham bilaghunnah
Idgam bilagunnah adalah apabila ada nun sukun/tanwin bertemu dengan salah satu huruf lam (ل), atau ra’ (ر). Cara membaca idgam bilagunnah adalah dengan memasukkan suara nun sukun/ tanwin ke dalam huruf berikutnya tanpa disertai dengung.
Contoh : مِنْ رَّبِّهِمْ، خَيْرٌ لَكُمْ [7]
d. Iqlab
Iqlab artinya membalikkan atau beralih. Iqlab yaitu apabila ada nun sukun atau tanwin bertemu dengan huruf ba’ (ب). Cara membaca iqlab adalah dengan membalik suara nun sukun /tanwin menjadi suara mim sukun. Contoh : مِنْ بَعْدِهِمْ، عَوَانٌ بَيْنَ [8]
e. Qalqalah
Qalqalah artinya memantul. bacaan qalqalah adalah apabila ada huruf qalqalah yang dibaca sukun. Huruf qalqalah ada 5 yaitu : ق،ط،ب،ج،د Bacaan qalqalah ada 2 macam yaitu:
1) Qalqalah sughra, yaitu qalqalah kecil (tipis membacanya). Qalqalah sughra adalah qalqalah yang ada ditengah kalimah. Huruf qal-qalah asli berharakat sukun/mati. Contoh : اَجْرٌ، مَطْلَعِ، وَرَزَقْناَهُمْ، وَابْتَغِ
2) Qalqalah Kubra, yaitu qalqalah besar (tebal membacanya). Qalqalah Kubra adalah qalqalah yang ada di akhir kalimah. Huruf qalqalah dibaca sukun karena berhenti/waqaf.
Contoh :
اَللهُ الصَّمَدُ ◌ خَلَقَ الْاِنْساَنَ مِنْ عَلَقٍ◌ [9]
B. Strategi dan Media Pembelajaran
Metode yang bisa dipakai untuk mengajarkan ilmu tajwid antara lain pembiasaan, ceramah, tanya jawab dan metode demonstrasi. Metode tersebut bisa dilakukan dengan berbagai strategi.
Contoh strategi yang bisa dipakai adalah:
1. Strategi Demonstrasi variasi permainan
a. Tujuan : siswa mamahami kaidah tajwid serta dapat menerapkan ke dalam bacaan al-Quran dengan benar.
b. Media : Bagan (kertas Karton atau Power point), Lembaran-lembaran kertas berisi ayat/surah al-Qur’an
c. Cara bermain : berkelompok
d. Langkah:
- Guru menjelaskan materi disertai dengan media bagan.
- Guru memberi contoh cara membaca dengan tajwid yang benar
- Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok
- Setiap kelompok diberikan lembaran berisi surat/ayat-ayat al-Qur’an yang mengandung bacaan tajwid sesuai materi.
- Setiap kelompok mencari contoh bacaan tajwid yang tadi dijelaskan.
- Secara bergantian siswa menyebutkan bacaan tajwid yang ditemukan dan mempraktekkan cara membacanya.
- Kelompok yang sudah selesai membaca memilih kelompok lain untuk giliran selanjutnya.
2. Permainan Kepala Bernomor
a. Tujuan : siswa mamahami kaidah tajwid serta dapat menerapkan ke dalam bacaan al-Quran dengan benar.
b. Media : Bagan (kertas Karton atau Power point), Lembaran-lembaran kertas berisi ayat/surah al-Qur’an, juz ’amma
c. Cara bermain : individu
d. Langkah:
- Guru menjelaskan materi disertai dengan media bagan.
- Guru memberi contoh cara membaca dengan tajwid yang benar
- Siswa berhitung dari angka 1 sampai sejumlah siswa yang ada.
- Secara bergantian siswa membaca ayat yang mnegandung bacaan tajwid.
- siswa yang sudah selesai membaca memilih nomor untuk mendapat giliran selanjutnya.
3. Bermain mencari pasangan
a. Tujuan : siswa bisa membedakan dan memahami bacaan-bacaan tajwid yang diajarkan.
b. Media : Kartu soal dan jawaban.
c. Cara bermain : berpasangan
d. Langkah:
- Guru menjelaskan materi dengan media yang disiapkan.
- Guru membagikan kartu soal dan kartu jawaban
- siswa mencari pasangan yang sesuai denga kartu yang dimiliki.
- Secara bergantian siswa membaca soal dan jawaban yang dipegang.
Bab III
Penutup
Strategi-strategi di atas hanyalah sebagian kecil dari strategi yang dapat dikembangkan dalam pembelajaran ilmu tajwid. Masih banyak strategi lain yang dapat dikembangkan untuk dapat mengajarkan ilmu tajwid dan menarik minat dan menambah semangat anak untuk belajar ilmu tajwid.
Sebagai calon guru, kita dituntut untuk kreatif dalam mengembangkan strategi pembelajaran yang membuat murid tidak bosan.

Daftar Pustaka:
Guru, Tim Bina Karya. 2009. Bina Belajar Al-Qur’an Hadits untuk Madrasah Ibtidaiyah Kelas II. Jakarta. Erlangga.
Guru, Tim Bina Karya. 2009. Bina Belajar Al-Qur’an Hadits untuk Madrasah Ibtidaiyah Kelas III. Jakarta. Erlangga.
Guru, Tim Bina Karya. 2009. Bina Belajar Al-Qur’an Hadits untuk Madrasah Ibtidaiyah Kelas IV. Jakarta. Erlangga.
Guru, Tim Bina Karya. 2009. Bina Belajar Al-Qur’an Hadits untuk Madrasah Ibtidaiyah Kelas VI. Jakarta. Erlangga.

[1] Tim Bina Karya Guru,2009, Bina Belajar Al-Qur’an Hadits untuk Madrasah Ibtidaiyah Kelas II, Jakarta, Erlangga hal. 23-30
[2] Tim Bina Karya Guru,2009, Bina Belajar Al-Qur’an Hadits untuk Madrasah Ibtidaiyah Kelas III, Jakarta, Erlangga hal. 37-41
[3] ibid hal 103-107
[4] Tim Bina Karya Guru,2009, Bina Belajar Al-Qur’an Hadits untuk Madrasah Ibtidaiyah Kelas VI, Jakarta, Erlangga hal. 77-84
[5] Tim Bina Karya Guru,2009, Bina Belajar Al-Qur’an Hadits untuk Madrasah Ibtidaiyah Kelas IV, Jakarta, Erlangga hal. 46-53
[6] ibid hal 59-60
[7] ibid hal 99-104
[8] ibid hal 109-110
[9] op.cit 4 hal. 56-57

KUTTAB SEBAGAI LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM



BAB I PENDAHULUAN
Keberadaan Lembaga Pendidikan Islam di Indonesia yang katanya mayoritas Islam, masih dianggap sebelah mata. Bahkan banyak yang tidak mengerti bahwa Madrasah Ibtidaiyah, Tsnawiyah, dan Aliyah termasuk Lembaga Pendidikan Formal.
Untuk memajukan Lembaga Pendidikan Islam, penting sekali bagi kita untuk mempelajari bentuk-bentuk Lembaga Pendidikan Islam yang pernah ada.
Mempelajari perkembangan Lembaga Pendidikan Islam, tentulah dimulai dari Lembaga Pendidikan Islam yang pertama kali ada, yaitu kuttab. Lembaga Pendidikan Islam yang sudah ada sejak zaman Rasulullah.
Kuttab pertama kali ada di Arab. Bangsa Arab sendiri sebelum berkembangnya Islam terkenal dengan budaya jahiliah. Mayoritas masyarakat Arab buta huruf dan kurang tertarik mengembangkan pendidikan. Ketika Islam datang, hanya ada 17 orang Quraisy yang mengenal tulis baca.
BAB II PENGERTIAN KUTTAB
Kuttab berasal dari akar kata taktib yang artinya mengajar menulis. Sementara katib atau kuttab berarti penulis. Institusi tersebut hanya berupa tempat belajar baca tulis bagi anak-anak.
Kuttab merupakan tempat belajar yang mula-mula lahir di dunia Islam. Pada awalnya kuttab berfungsi sebagai tempat memberikan pelajaran menulis dan membaca bagi anak-anak,
Kuttab sebenarnya telah ada di negeri Arab sebelum datangnya agama Islam. Kuttab merupakan institusi pendidikan yang tertua dalam sejarah tarbiyah. Bisa diibaratkan sebagai sebuah pesantren di Jawa. Kondisinya masih sangat sederhana. Yang ada hanya seorang guru yang dikelilingi sejumlah murid.
Di antara penduduk Mekah yang mula-mula belajar menulis huruf Arab di kuttab ini ialah Sufyan bin Umayyah bin Abdul Syams dan Abu Qais Abdul Manaf bin Zuhrah bin Kilab.Keduanya belajar dari Bisyr bin Abdul Malik yang mempelajarinya dari hirah. Kuttab dalam bentuk awalnya hanya berupa ruangan di rumah seorang guru.
Keistimewaan lembaga tradisional pertama dalam Islam ini, meskipun masih sangat sederhana, tetapi memberikan kontribusi bagi umat hingga berdirinya sistem madrasah pada abad-abad berikutnya.
Pendidikan jenis kuttab ini pada mulanya diadakan di rumah-rumah guru. (mu’alim, muaddib). Setelah Nabi Saw. dan para sahabat membangun masjid, barulah ada kuttab yang didirikan di samping masjid. Selain itu ada juga kuttab yang didirikan terpisah dari masjid. Masa belajar di Kuttab tidak ditentukan, bergantung kepada keadaan si anak. Anak yang cerdas dan rajin, akan lebih cepat menamatkan pelajarannya. Sebaliknya anak yang malas akan memakan waktu yang lama untuk menamatkan pelajarannya. Sistem pengajaran di kuttab ketika itu tidak berkelas. Para murid biasanya duduk bersila dan berkeliling menghadap guru.
Pada awal pemerintahan Islam di Madinah, pengajar baca tulis di kuttab kebanyakan non muslim, karena sedikit sekali kaum muslim yang bisa menulis. Rasulullah pernah membebaskan para tawanan perang dengan syarat mengajari 10 orang muslim membaca dan menulis. Pada awalnya pengajaran baca-tulis tidak dinukil langsung dari Al-Qur’an tetapi dari puisi dan syair bijaksana orang-orang Arab. Setelah banyak kaum muslimin yang pandai menulis dan membaca, maka pengajaran baca tulis di kuttab sumber nukil pun tidak lagi puisi dan syair tetapi Al-Qur’an.
BAB III JENIS-JENIS KUTTAB
Pada mulanya kuttab (maktab) berfungsi sebagai tempat memberikan pelajaran menulis dan membaca bagi anak-anak, namun ketika ajaran Islam mulai berkembang, pelajaran ditekankan pada penghafalan Al-Qur’an. Menurut catatan sejarah, kuttab telah ada di negeri Arab sejak masa pra-Islam, walau belum begitu dikenal dan baru berkembang pesat setelah periode bani Ummayah, namun seiring dengan meluasnya wilayah kekuasaan Islam, jumlah pemeluk Islam pun semakin bertambah. Hal ini menuntut dikembangkannya kuttab yang ada untuk mengimbangi laju pendidikan yang begitu pesat. Pada perkembangan selanjutnya, selain kuttab-kuttab yang ada di masjid, terdapat pula kuttab-kuttab umum yang berbentuk madrasah, yakni telah mempergunakan gedung sendiri dan mampu menampung ribuan murid.
Kuttab jenis ini mulai berkembang karena adanya pengajaran khusus bagi anak-anak keluarga kerajaan, para pembesar, dan pegawai Istana. Dan diantaranya yang mengembangkan pengajaran secara khusus ini adalah Hajjaj bin Yusuf al-Saqafi (w.714) yang pada mulanya menjadi muaddib bagi anak-anak Sulayman bin Na’im, Wazir Abd al-malik bin Marwan.
Menurut Ahmad Syalabi terdapat dua jenis Kuttab dalam sejarah pendidikan Islam. Perbedaan jenis Kuttab ini dilihat dari isi pengajaran (kurikulum), tenaga pengajar dan masa tumbuhnya.
  1. Kuttab yang berfungsi mengajarkan baca tulis dengan teks dasar puisi-puisi Arab. Sebagian besar gurunya adalah non-muslim. Kuttab jenis ini berkembang pada masa Islam awal.
  2. Kuttab yang berfungsi sebagai tempat pengajaran Al-Qur’an dan dasar-dasar agama Islam.
Perbedaan Kuttab menurut daerah
a. Kuttab di Al-Maghrib (Maroko)
Umat Islam di Maroko sangat menekankan pengajaran Al-Qur’an. Anak-anak daerah ini tidak akan belajar sesuatu yang lain sebelum menguasai Al-Qur’an secara baik. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan ontografi (mengenali satu bentuk kata dalam hubungannya dengan bunyi bacaan). Itulah sebabnya, menurut Ibnu Khaldun, muslim Maroko dapat menghafal Al-Qur’an lebih baik dari muslim daerah mana pun.
b. Kuttab di Spanyol (Al-Andalus)
Kuttab daerah ini mengutamakan menulis dan membaca. Al-Qur’an tidak diutamakan dibanding dengan puisi dan bahasa Arab. Penekanan pada pelajaran menulis melahirkan ahli-ahli kaligrafi yang dapat membaca dan menyalin Al-Qur’an tanpa harus manghafalnya (seperti muslimMaroko)
c. Kuttab di Ifriqiyah (Afrika Utara=Tunisia, sebagian Algazy, dan sebagian Libya)
Kuttab di daerah ini menekankan pada variasi bacaan (qira’at) lalu diikuti kaligrafi dan hadits
d. Kuttab di daerah timur (Al-Masyriq=Timur Tengah, Iran, Asia Tengah, dan Semenanjung India)
Secara umum, Kuttab di daerah ini menganut kurikulum campuran dengan Al-Qur’an sebagai inti, tetapi tidak memadukannya dengan ketrampilan kaligrafi, sehingga tulisan tangan anak-anak muslim dari daerah timur tidak begitu baik.
BAB IV PERKEMBANGAN KUTTAB
1. Kuttab di Jaman Rasulullah
Di Kuttab ini diajarkan baca tulis dengan teks dasar puisi-puisi Arab. Pengajaran Kuttab berlangsung di rumah para guru. Pasca muslimin hijrah ke Madinah, pendidikan model kuttab ini diberlakukan oleh Rasulullah dengan mengambil tempat di masjid dan rumah guru. Fungsi kuttab pun dibagi menjadi dua macam, pertama mengajarkan baca tulis dan kedua mengajar Al-Qur’an dan dasar-dasar agama Islam.
2. Kuttab di jaman Khulafaur rasyidin
Seperti halnya pada zaman Rasulullah yang memusatkan pendidikan di kuttab, maka begitu pula yang terjadi pada zaman Abu Bakar Sidiq. Kuttab tetap dipertahankan sebagai lembaga tempat belajar membaca dan menulis. Keberadaan kuttab seiring dengan pembangunan masjid, dan guru di Kuttab adalah para shahabat Rasulullah.
3. Kuttab di Zaman Umayyah
Sistem Kuttab yang mengajarkan membaca, menulis Al-Qur’an dan agama Islam lainnya tetap dilanjutkan pada zaman Umayyah. Hanya saja tempatnya selain di masjid dan rumah guru juga diselenggarakan di istana. Kuttab di istana bertujuan mengajarkan anak-anak dari keluarga yang berada di istana Khalifah. Guru istana dinamakan muaddib. Pendidikan istana mengajarkan Al-Qur’an, hadits, syair, riwayat hukama, menulis, membaca, dan adab sopan santun.
BAB V INSTITUSI PENDIDIKAN ISLAM PRA MADRASAH
Munculnya berbagai bentuk pendidikan Islam yang tersebar dan menjamur saat ini, tidak terlepas peran lembaga-lembaga pendidikan Islam pada masa kejayaan Islam (masa Rasulullah Saw, Al-Khulafa’ Al-Rashidin, Bani Ummayah, Bani Abbasiyah). Saat itu telah dikenal institusi pendidikan Islam, namun pelaksanaannya masih pada tempat yang sederhana. Lebih jauh lagi George Makdisi mengklasifikasikan institusi-institusi tersebut menjadi dua periode, yakni periode pra-madrasah dan periode pasca-madrasah. Periode pra-madrasah yaitu:
  1. Kuttab
Lembaga pendidikan dasar tempat mengajarkan baca tulis untuk anak-anak.
  1. Manazil al-‘Ulama’ (Rumah Kediaman para Ulama)
Kediaman para ulama dan ahli ilmu pengetahuan yang pernah digunakan sebagai forum kajian ilmiah, di antaranya adalah rumah Ibn Sina, al-Ghazali, Ali Ibn Muhammad al-Fasihi, Ya’qub Ibn Kilis, Abu Sulayman al-Sijistani, dan masih banyak lagi.
  1. Masjid dan Jami’
Ketika Rasulullah Saw, hijrah ke Madinah dengan semakin banyaknya pengikut Islam dan semakin kompleksnya masalah-masalah yang perlu dikaji, fungsi awal rumah sebagai wahana pendidikan dialihkan ke masjid-masjid seperti masjid Nabawi dan Quba, yang dijadikan pusat bagi segala aktifitas pendidikan, kemasyarakatan kenegaraan dan keagamaan. Hal ini karena masjid dianggap sebagai institusi pendidikan yang merupakan instrumen yang pertama dan efektif untuk membantu transisi masyarakat Arab pada waktu itu, dari masyarakat primitif menjadi masyarakat yang lebih maju.
  1. Qusur (Pendidikan Rendah di Istana)
Pada tahap ini Pendidikan dikenalkan pada anak-anak di lingkungan Istana. Metode pendidikan dasar ini dirancang oleh orang tua murid agar selaras dengan tujuannya dan sesuai dengan minat dan kemampuan anaknya.
5. Hawanit al-Waraqin
Pada masa ini bermunculan toko-toko buku sebagai agen komersil dan sekaligus berfungsi sebagai center of learning. Ini berawal pada permulaan Daulah ‘Abbasiyah, yang kemudian menyebar dengan cepat ke berbagai ibukota dan Negara-negara berbeda di negeri Islam.
Para pemilik toko-toko (warraqun) ada yang telah dapat menulis kitab-kitab monumental dengan karya-karyanya, diantaranya Ibn al-Nadim (995 M) yang menulis kitab Fihrisat (Indent of Nadim), Ali bin Isa yang menulis bermacam-macam kitab, dan Yaqut al-Hammi yang menulis Mu’jam al-Udaba, dan Mu’jam al-Buldam.
6. Al-Salunat al-‘Adabiyyah (Majelis Sastra)
Lembaga ini merupakan pengembangan dari majelis-majelis al-Khulafa’ al-Rashidin. Selain mengurus masalah-masalah pemerintahan, juga memberikan fatwa-fatwa agama melalui forum masjid ataupun diluar masjid.
Forum ini mengalami kemajuan yang cukup pesat, karena sering diadakan semacam perlombaan syair dan perdebatan para fuqaha dan diskusi diantara para sarjana dari berbagai disiplin ilmu. Sehingga muncullah tokoh-tokoh yang aktif hadir dalam forum tersebut :
a. Dari Kalangan Penyair: Abu Nuwas, Abu al-Itahiyah Da’bal, Muslim Ibn al-Walid dan al-Abbas al-Ahnaf.
b. Dari kalangan musisi, Ibrahim al-Mawali dan anaknya bernama Ishaq.
c. Dari kalangan ahli Gramatika: Abu ‘Ubaidah, al-Ismail al-Kisa’I, Ibn-Siman, al-Wa’iz dan al-Waraqid.
7. Maktabat (Perpustakaan)
Perpustakaan ini bersifat umum dan yang paling terkenal dimasanya diantaranya perpustakaan Iskandariyah dan Bait al-Hikmah (House of wisdom) pada masa daulah ‘Abbasiyah.
Pada perkembangan selanjutnya perputakaan telah menjadi salah satu pusat pendidikan dan kebudayaan Islam. Perpustakaan dipakai juga oleh ilmuan sebagai pusat researces akademik.
8. Al-Badiyah (Daerah Pedalaman)
Pada tahapan ini, banyak dari para pelajar yang sangat peduli akan orisinalitas kebahasaan mereka, dan memutuskan unutk pergi belajar bahasa ke ba’diyah (suku pedalaman/badui) bahkan banyak yang sampai menetap disana beberapa waktu demi pendalaman bahasa mereka.
9. Bimaristan dan Mustashfayat
Bimaristan dan Mustashfayat atau dikenal dengan lembaga rumah sakit, pertama kali dibangun oleh Abu Za’bal pada tahun 1825 M di Mesir. Dalam institusi ini, selain digunakan sebagai tempat penyembuhan orang sakit, juga di gunakan sebagai pusat pengajaran ilmu kesehatan. Institusi ini dikembangkan lagi pada masa pemerintahan Al-Walid Ibn Abd Malik pada tahun 1888 M dimana institusi ini telah memainkan peranannya yang sangat besar dalam sejarah perkembangan pendidikan Islam.
BAB VI PENUTUP
Kegiatan pendidikan pada masa pra-Islam berlangsung pada Kuttab-Kuttab dan pasar tradisional. Setelah datangnya Islam, berkembanglah lembaga-lembaga pendidikan Islam yang sangat mempengaruhi pendidikan di Arab.
Dengan mempelajari Lembaga Pendidikan di masa lalu, diharapkan agar bermanfaat bagi perkembangan Lembaga Pendidikan Islam pada masa yang akan datang.